Jumat, 08 Maret 2013

PERANAN BELAJAR DALAM MENATA KEHIDUPAN HARI ESOK



PERANAN BELAJAR DALAM MENATA KEHIDUPAN HARI ESOK
Zaenuddin Kabai
Guru SMAN 2 Bantaeng
(081342537529)

PENDAHULUAN
                Barangkali penulis tidak terlalu berlebihan kalau sudah mengatakan bahwa tanpa belajar tidak mungkin mendapat ilmu apa lagi kalau dikatakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebab ilmu atau ilmu pengetahuan kata suparlan (2003). Kalau hanya ilmu adalah mengenai sekitar pengetahuan fisis, dan karena itu praktis, pragmatis dan positivistis. Sedangkan pengetahuan menyangkut fisis, kualitatif, dan spekulatif. Kendatipun keduanya sama pentingnya bagi hidup dan kehidupan manusia. Sebab ilmu membentuk daya intelegensi dan melahirkan adanya skill atau keahlian dan keterampilan yang bisa memproduksi dan mengkonsumsi masalah-masalah atau kebutuhan keseharian. sedangkan pengetahuan melahirkan daya moralitas keilmuan menuju  lahirnya tingkah laku dan aktifitas yang berhubungan dengan masalah-masalah yang tercakup didalam tujuan akhir kehidupan manusia. oleh karena itu masalah belajar meruapakan masalah pendidikan. Sedangkan masalah mendidik adalah masalah setiap orang. Karena setiap orang sejak dahulu hingga sekarang tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan atau anak-anak lain diserahkan kepadanya untuk dididik.                 Demikian pula masalah belajar dan mengajar dapat dikatakan sebagai tindakan pelaksanaan usaha pendidikan, adalah masalah setiap orang. Tiap orang boleh dikatakan selalu belajar juga dalam arti tertentu mengajar ; misalnya; guru mengajar murid-muridnya, atau membelajarkan murid-muridnya, kepada kantor mengkader pengawai-pegawainya, dokter mengajar pasien-pasiennya tentang cara-cara penjagaan kesehatan dan sebagainya.       Oleh karena belajar dan membelajarkan adalah masalah setiap orang, maka merupakan satu hal yang sangat penting dipermasalahkan pada tulisan ini adalah ,(1) Apakah belajar itu, (2)  Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi belajar, (3) mengapa belajar dikatakan menata hari esok. Dengan tujuan disatu sisi untuk memahami lebih jauh tentang apakah itu belajar. Disisi lainnya, Untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh dalam belajar, Untuk mengkaji mengapa belajar sehingga dikatakan menata hari esok. Agar dapat bermanfaat bagi  siapa saja yang ingin mengetahui tentang  (1) Apa itu belajar, (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, (3) mengapa belajar dikatakan menata kehidupan hari esok.
BELAJAR
           Berbicara mengenai belajar,maka akan diperhadapkan dengan kata perbuatan. Sedangkan perbuatan itu bermacam-macam, begitu pula perbuatan belajar. Banyak kegiatan yang hampir setiap orang sepakati kalau disebut perbuatan belajar,misalnya mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru, menghapal syair , menghapal nyanyian,dan bahkan pekerjaan yang sudah dilakukanpun terkadang masih dianggap belajar. Dalam kenyataan sehari-hari ada beberapa aktifitas sepertinya kurang begitu jelas apakah tergolong sebagai perbuatan (hal) belajar ,misalnya : mendapakan bermacam-macam sikap sosial (misalnya prasangka), kegemaran, pilihan dan lain-lainnya. Oleh karena itu Cronbach dalam (Suryabrata,2002) mengatakan belajar  sebaik-baiknya adalah dengan mengalami, dan dalam mengalami itu sipelajar mempergunakan panca inderanya. Begitu pula pendapat aliran skolastis, belajar pada hakikatnya ialah mengulang-ulang bahan yang harus dipelajari. Sehingga dengan demikian dapat dihayati dan diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan hidup baik sekarang maupun masa dating.Dalam waktu singkat belajar dengan tujuan untuk ulangan harian atau evaluasi lainnya. Sedangkan kebutuhan masa datang ilmu yang dipelajari dapat meningkatkan kecerdasan pebelajar agar kelak dapat bermakna baik untuk dirinya , masyarakat umum. Dapat dikatakan untuk kemaslahatan masyarakat banyak dan bukan untuk memusnahkan sendi-sendi kehidupan masyarakat banyak.  
                Berdasarkan pengertian tersebut maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa : (1) Belajar itu membawa perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu,yang tahu menjadi lebih tahu, (2) perubahan itu pada pokoknya adalah dari yang kurang lancar menjadi lancar atau menjadi paham atau mengerti,(3) Perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja(4) Mendapatkan kecerdasan baik untuk masa sekarang, maupun masa datang.

BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM BELAJAR
             
              Menyimak keempat makna dalam pengertian belajar, maka timbul pertanyaan mengapa tidak semua pebelajar dapat mencapai hasil yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang ikut berpengaruh didalamnya, yakni; faktor ekstern dan intern pebelajar.
               Faktor ekstern yang sering berpengaruh dalam kegiatan belajar diantaranya; (1) faktor non sosial seperti kondisi alam, waktu, tempat, pasilitas belajar harus memenuhi syarat pertimbangan didaktis, psikologis, dan faedagogik, dan andragogi.  Suryabrata (2002).(2) faktor sosial dalam belajar seperti pada waktu belajar kedatangan tamu, percakapan disamping ruangan yang sementara ujian, atau keluar masuk ruangan dan sebagainya. Hal seperti ini terkadang mengganggu proses belajar dan ujung-ujungnya prestasi belajar ikut terpengaruh, karena perhatian tidak terfokus pada hal yang dipelajari. Oleh karena itu menurut Sardiman (2003) pengaturan terhadap kondisi pembelajaran merupakan suatu keharusan agar pelaksanaan belajar berlangsung sesuai dengan keinginan pendidikan.
              Faktor Intern, dalam hal ini dapat digolongkan menurut Dan Zigen dalam (Suryabrata,2002) menjadi dua yakni; (1) faktor fsiologis dalam belajar yang terdiri dari; tonus jasmani pada umumnya, dan  keadaan fungsi-fungsi jasmani/fsiologis tertentu, (2) faktor-faktor fsiokologis dalam belajar terdiri dari; bakat, minat, sikap dan usaha belajar, kecerdasan dan intelegensi, motivasi pebelajar.
           Faktor fsiologis dalam belajar dari segi keadaan tonus jasmani pada umumnya, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dari pada yang tidak lelah. Hal ini mungkin sebagai akibat dari; (1) karena kekurangan kadar makanan, ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lekas mangantuk, lekas lelah dan sebagainya. Apatah lagi anak-anak usia muda, pengaruhnya masih sangat besar Dan Zigen dalam ( Suryabrata,2002). (2) beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu, penyakit-penyakit seperti pilek,infliensa, sakit gigi, batuk dan sejenisnya biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk perhatian dan pengobatan, akan tetapi dalam kenyataannya penyakit seperti itu sangat mengganggu aktifitas belajar, (Suryabrata,2002).
            Faktor fsiologis dari segi keadaan fungsi-fungsi jasmani/fsiologis tertentu terutama fungsi-fungsi panca indera (Suryabrata, 2002). Berfungsi baiknya panca indera adalah merupakan syarat utama berlangsungnya belajar dengan baik. Terutama pada belajar dengan melalui system persekolahan. Dewasa ini system persekolahan seperti mata dan telinga sangat memegang peranan. Karena itu menjadi kewajiban setiap pendidik untuk menjaga agar panca indera anak didiknya dapat berfungsi dengan baik, baik penjagaan yang bersifat kuratif maupun yang bersifat prefentif, seperti adanya pemeriksaan dokter secara priodik, penyediaan alat-alat pelajaran, serta perlengkapan yang memenuhi syarat, dan penempatan murid-murid dikelas (pada sekolah-sekolah) dan sebagainya. Akan tetapi manakala terdapat salah seorang siswa mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran maka penggunaan kaca pembesar, menggunakan buku dengan cetakan tulisan besar, alat bantu pendengar guna mambantu dalam pengadaptasian materi pelajaran dalam kelas. Selanjutnya sebagai program tambahan adalah dengan pengajaran dan tes tambahan yang berfokus pada pemahaman kata-kata dengan mulut, penggunaan bahasa isyarata dan ejaan dengan menggunakan jari-jari tangan (Sardiman,2003).
            Faktor-faktor psikologis dalam belajar dari segi bakat, Rukadjat (1973) Melihat pengertiannya maka, bakat adalah kemampuan khusus sebagai pembawaan dari lahir dan sering juga diistilahkan kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa. Bahkan ada pendapat mengatakan, kecepatan belajar yang ada dalam diri siswa disekolah itu dapat terjadi karena pembawaan mereka sejak lahir. Sekalipun ada pendapat bahwa bukanlah semata-mata karena bakat yang menyebabkan orang berhasil dalam belajar akan tetapi masih banyak yang lainnya.
             Faktor-faktor psikologis dalam belajar dari segi minat, Rukadjat (1973) mengatakan, minat adalah kemampuan yang terdapat dalam hati atau suatu gairah, keinginan. Oleh karena itu kesuksesan belajar sangat dipengaruhi oleh apakah peserta belajar menaruh minat pada pelajaran tersebut dan bahkan ingin memilikinya apalagi ingin mengaplikasikannya setelah mereka miliki. Begitupula sebaliknya pebelajar akan menghindari pelajaran manakala tidak berminat dan kalau membelakangi secara pasti tidak mungkin memilikinya. Salah satu hal dapat memperkuat minat, manakala dilingkungan indifidu bersangkutan dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuannya.              
            Faktor-faktor psikologis dalam belajar dari segi sikap dan usaha belajar, Rukadjat (1973), belajar sangat dipengaruhi oleh pendirian dan kreatifitas peserta belajar secara sukarela, bahkan ada yang mengatakan bahwa cerdas bagaimanapun seseorang tidak mungkin akan sukses belajar manakala tidak ditunjang oleh sikap positif dan usaha sukarela dalam menghadapi proses pembelajaran yang dijalaninya itu.                 
            Faktor-faktor psikologis dalam belajar dari segi kecerdasan dan intelegensi, Menurut beberapa ahli diantaranya; Symderman dan Rothan (suryabrata, 2002) intelegensi terdiri dari tiga bagian yaitu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan, kemampuan untuk berpikir dan memberikan alas an atau jawaban yang abstrak, dan kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), Senada ungkapan Super dan Crites dalam(Suryabrata 2002) intelegensi, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman. Begitupula Garet dalam (Veizey,1982) intelegensi adalah kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan pengertian dan symbol-simbol. Tidak jauh berbeda ungkapan Bischof dalam (Suryabrata 2002) bahwa intelegensi, kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah.Bahkan lebih jelas lagi Faham Teologis, mengatakan bahwa intelegensi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang untuk memilih atau menentukan mana ayng haram dan mana yang halal, selanjutnya mampu menentukan pilihan kearah yang benar.
            Berdasar dari pendapat dari beberapa ahli tersebut , maka suatu kawajaran jika intelegensi dapat diklasifikasikan manjadi empat macam; Intelegensi question (IQ), kemampuan intelektual yang dimiliki oleh seseorang, Sedangkan Emosional Quetsion(EQ),kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, begitupula Spiritual Quetsion(EQ), kemapuan keberpihakan seseorang kepada kebenaran ayng hakiki, dan tidak ketinggalan Sosial Quetsion(SLQ). Kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang baru , serta mampu melakukan refleksi terhadap situasi yang berkembang, dan sekaligus melakukan partisipasi aktif dalam melakukan suatu perubahan untuk kemaslahatan orang banyak.
           Faktor-faktor psikologis dalam belajar dari segi metivasi belajar, Merupakan suatu dorongan baik itu dari dalam individu maupun yang bersumber dari luar ekstern menurut Maslow yang dikutip oleh Frendsen (dalam Suryabrata 2002) motif-motif untuk belajar karena adanya kebutuhan fisik, adanya kebutuhan rasa aman, karena ingin merasa aman/bebas dari kehawatiran, karena butuh rasa cinta/perhatian,karena butuh penghargaan dari masyarakat.Pendapat lain seperti Arden N.Frandsen, bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar ;(1)adanya sifat ingin  tahu dan menyelidiki dunia yang lebih luas,(2) adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju,(3) adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua,guru,dan teman-teman.(4) adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru,baik dengan koperatif maupun kompetisi,(5) adanya ganjaran atau hadiah sebagai akhir dari belajar,(6)adanya keinginan rasa aman bila menguasai pelajaran.
          Menyimak kedua pendapat tersebut maka barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, motivasi intern berasal dari adanya sifat kreatifitas dan keinginan selalu ingin tahu kepada seluruh aspek terutama apa yang mereka pelajari demi perkembangan kearah kemajuan.Sedangkan motivasi ekstern lahir karena keinginan untuk mendapatkan pengakuan diberbagai pihak secara universal.

MENGAPA BELAJAR DIKATAKAN PERSIAPAN HARI ESOK    
            Kemajemukan kebutuhan-kebutuhan pebelajar, maka sebagai pendidik diharapkan senantiasa mengenal kebutuhan mana yang dominan bagi anak didiknya sebagai pebelajar sekalipun usia muda terkadang belum jelas cita-cita masa depan yang sebenarnya.Karena itulah sebagai pendidik diharapkan berinisiatif untuk merumuskan tujuan-tujuan sementara yang dekat sebagai cita-cita sementara supaya hal ini merupakan motivasi atau pendorong yang kuat bagi siswa untuk belajar.
           Hal inilah sehingga belajar dikatakan penentu utama hari esok, sebab yang dilakukan hari ini adalah untuk masa datang. Belajar hari ini tiada lain untuk masa datang, makanya itu secara teoritis kegagalan dalam pembelajaran hari ini merupakan gambaran untuk kegagalan hari esok. Menata masa depan tanpa belajar maka sama halnya merencanakan kegagalan. Maka dari itu, pandangan teologis mengatakan bahwa untuk menggapai kebahagiaan dunia, kuasai ilmu pengetahuan, begitupula kebahagiaan dihari kemudian kuasailah ilmu. Sementara ilmu pengetahuan tidak akan mungkin tanpa belajar. Apatahlagi ketika mengharapkan eksitensi masa depan yang cemerlang tidak akan mungkin tanpa Iman dan Ilmu. 

PENUTUP
           Belajar, merupakan usaha disengaja secara sukarela menuju pada perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari kurang lancar menjadi lancar suatu ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar kelak menjadi miliknya, kemudian dapat dijadikan sebagai alat dalam menata kehidupan hari esok yang lebih baik. Sekalipun dalam belajar tidak terlepas dari beberapa pengaruh baik itu bersumber dari dalam diri (intern) pebelajar maupun bersumber dari luar (ekstern). Dari kedua faktor tersebut saling berpengaruh antara satu dengan lainnya, kendatipun kesemuanya itu yang paling menentukan terletak pada penanaman motivasi terhadap peserta belajar.
             Oleh karena proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, maka diharapkan pendidik mengatur faktor-faktor tersebut supaya berpengaruh positif bagi anak didik.Selain itu heterogenitas aspirasi para anak didik perlu diketahui oleh kalangan pendidik dan bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut. Kemudian tidak kalah pentingnya pembuatan tujuan-tujuan sementara yang dekat adalah merupakan suatu alternatif guna memberi arah kepada usaha mereka dalam belajar.
           Selain itu tidaklah berlebihan jika dijadikan suatu kesepakatan bahwa belajar merupakan prasyarat utama untuk meraih kehidupan masa datang lebih baik. Sebab tanpa belajar maka ilmu pengetahuan dan tekhnologi sulit diperoleh. Begitupula masa depan yang lebih baik tanpa IPTEK maka sulit untuk menjadi miliknya. Tidak heran kalau pakar pendidikan menilai behwa kegagalan dalam belajar berarti kegagalan dalam memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga berakibat kegagalan masa depan. Singkatnya sukses belajar berarti sukses masa depan.
           

Daftar Bacaan

Amirin Tatang M, 1996.Pokok-pokok Teori system. Jakarta :Rajawali pers.
Rukadjat Adjak dkk, 1973. Psikologi Pendidikan. Jakarta ;Depdikbud
Salim Peter, 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta : Penerbit Moderen English press.
Sardiman, 2002.Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta; PT.Raja GrafindoPersada
Suhartono Suparlan,2003. Filsafat ilmu Pengetahuan. UNM Makassar
Suryabrata Sumadi, 2002.Fsikologi Pendidikan.Jakarta ; PT.Raja Grafindo persada
Veisey John, 1982. Pendidikan di Dunia Modern. Jakarta ; Gunung Agung.       





Senin, 25 Februari 2013

TOLAK UKUR KUALITAS PENDIDIKAN DAN UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Zaenuddin Kabai (Guru SMAN 2 Bantaeng) 081342537529



TOLAK UKUR KUALITAS PENDIDIKAN DAN UPAYA PENINGKATAN
MUTU PENDIDIKAN
Zaenuddin Kabai
(Guru SMAN 2 Bantaeng)
081342537529
      
         Sampai saat ini Indonesia belum memiliki alat ukur kualitas luaran yang baku.Terbukti kompetisi tingkat internasional Indonesia berada dipapan bawah. Padahal sudah dilakukan berbagai cara, sayangnya masih sering terjadi kagiatan yang menodai kegiatan kearah kualitas dengan mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas, akibatnya output kita tertinggal ketika bersaing dengan output dari Negara maju dalam rangka  merebut pasar kerja ditingkat atas. Padahal ukuran yang dicoba WHO mengenai tolak ukur indeks kegiatan hidup sehari-hari, indeks kemampuan kerja,dan kemampuan menghasilkan pendapatan(kemandirian), sampai saat ini ketiga tolak ukur ini dijadikan sebagai patokan maka kemungkinan kita diperhadapkan oleh biaya pengukuran, dan siapa yang akan mengukurnya dan bagaimana cara pengukurannya. Kalaupun pengukuran output dengan ujian akhir nasional bisa dikelola secara maksimal, meminimalisir kecurangan didalam ujian nasaional maka kemungkinan besar Indonesia akan terangkat statusnya lebih tinggi dari papan bawah menuju papan tengah dalam persaingan dengan output Negara maju.
       Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu pekerjaan yang multi kompleks.Oleh karena itu penulis hanya membatasi bahasan mengenai; tolak ukur mengenai kualitas manusia Indonesia, pendidikan kecakapan(life skills). Dengan tujuan ; (1) untuk mengkaji tolak ukur yang bagaimana seharusnya (2) untuk melakukan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu melalui pendidikan kecakapan skill . Dengan harapan; (1) sebagai salah satu bahan banding dalam rangka menjejaki tolak ukur yang benar-benar sesuai dengan peningkatan kualitas mutu pendidikan (2) sebagai salah satu bahan  referensi bagi penulis berikutnya   
Tolak Ukur Kualitas Pendidikan
      Tolak ukur mengenai kualitas manusia Indonesia, Kartono Muhammad (Kompas, 20 April 1988) mengatakan bahwa apakah kualitas manusia Indonesia yang dicita-citakan tercapai atau belum, tentunya harus ada tolak ukurnya. Inilah seringkali kita mengalamikesulitan. Sebab diserahkan pada satu tim belum tentu tidak melahirkan kecurigaan. Selanjutnya Kartono mengusulkan 2 (dua) ukuran yakni ukuran kualitas bahan baku dan ukuran hasil (output).
Pertama, Mengukur kualitas bahan baku atau faktor masukan menjadi jaminan adanya hasil yang sebanding, unsur masukan tadi peling tidak sudah dapat dijadikan indikator tentang upaya yang telah dilaksanakan, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat sendiri.
       Selain mengukur masukan dari luar, faktor masukan dari menusia itu sendiri perlu diperhitungkan. Artinya apakah menusia sebagai subyek yang diproses juga berkualitas tinggi. Alasannya adalah semaik bahan baku yang dimasukkan untuk diproses semakin baik pula hasilnya manakala diproses secara  professional. Olehnya itu manusia dipersiapkanm berkualitas sejak usia dini. Anak-anak Indonesia harus mempunyai kesehatan yang baik, fisik yang baik, dan prilaku social yang baik. Sehingga dengan pendidikan agama dan pendidikan umum yang bermutu baik pula, ia akan dapat diolah menjadi manusia yang sesuai dengan criteria UU Sisdiknas no. 20 Tahun 2003. Untuk mengukur kualitas kesehatan dan kualitas fisik tidak terlalu sukar. Bahkan dari pertumbuhan tinggi dan berat badan saja, gambaran tentang mutu kesehatan mereka sudah dapat dilihat. Bukan hanya kesehatan pada saat itu diukur saja, tetapi juga kesehatan sejak masih dalam kandungan sampai ke usia 7-10 tahun.
         Untuk mengukur kualitas prilaku sosial anak, agar ia dapat menjadi bahan baku bermutu, Dr Bentsen dari Norwegia dalam Muhammad (1988) mengusulkan penggunaan nilai hubungan social (family apgar), yang terdiri dari angka (skor), hubungan anak dengan saudara-saudaranya dan angka hubungan anak dengan teman-temannya.Bagi orang dewasa harus ditambahkan dengan hubungan orang dewasa dengan teman sekerjanya. Mengukur kualitas kesehatan saja dan prilaku sosial belum tentu merata dengan menggunakan tolak ukur tersebut.
Kedua, Mengukur Hasil (output) dengan bahan baku yang berkualitas  dengan pengelolaan yang baik pula diharapkan dapat tercapai hasil maksimal pula. Tetapi pengukuran apakah hasil yang dicapai baik dan sesuai tuntutan Sisdiknas no.20 th 2003. Tentunya bukan hal yang mudah terutama karena yang dihadapi adalah manusia yang hidup, tumbuh dan mempunyai otak untuk berpikir. Sekalipun tidak terlepas dari pengaruh eksternal dan internal.
                 Pengukuran output melalui ujian akhir nasional, adalah salah satunya cara dalam mengendalikan dan penjaminan mutu kualitas (quality control and assurance) pendidikan. Persoalannya adalah system pengujian pendidikan, sebab disadari atau tidak ada beberapa masalah yang ditinggalkan antara lain; Pertama, Ujian akhir nasional(UAN), ujian nasional (UN), Sangat bepariasi dari tahun-ketahun, terkadang tidak memberikan ruang gerak kepada sekolah dalam menentukan kelulusan siswanya,  seperti yang pernah terjadi pada UAN tahun 2004. Padahal yang melakukan proses pendidikan kepada siswa adalah sekolah dengan berbagai kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Dengan mematok angka yang ditetapkan secara nasional (4,01). Padahal otonomo sekolah selama ini merupakan salah satu program nasional dalam kaitannya dengan otonomi daerah alias desentralisasi dibidang pendidikan. Tapi kenyataannya masih seperti yang berhak meluluskan seluruh Indonesia adalah Diknas pada saat itu. Kedua, Selain itu muncul lagi istilah konversi nilai UAN. Hal seperti ini sepertinya nilai UAN juga sama seperti main-mainan, dengan alas an mengenai titik temu perbedaan mutu antar daerah. Ketiga, UAN 2004 belum konsisiten terhadap tujuan prndidikan secara nasional, karena dalam prakteknya hanya menilai aspek kognitif dan hampir melupakan aspek lainnya. Pertanyaannya sekarang bagaimana seharusnya UAN. Mengingat kesenjangan antara pasilitas, SDM serta system pengujian kita masih belum tepat, maka merupakan satu hal yang sangat sulit untuk menentukannya. Andaikata kita sudah memiliki system pengujian yang baku atau sesuai dengan standar yang diharapkan, kesenjangan antara fasilitas dan SDM antar daerah diseluruh Indonesia tidak lagi terjadi, maka menentukankualitas mutu pendidikan tidak terlalu sulit.Tahun ajaran 2012-2013 untuk sekolah menengah umum diberi  standar kelulusan 5,5 dengan dasar perhitungan 40% x nilai sekolah (NS) +60% x UN = 5,5. NS = Rata-rata(R)  nilai semister 3,4dan 5 + nilai Ujian Sekolah (NS).
Upaya peningkatan mutu pendidikan
         Kendatipun demikian beberapa hal yang biasanya dilakukan dalam pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan sebagai berikut: (1) Pemberdayaan sekolah ( satuan pendidikan) secara optimal, (2) Pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan secara nasional, dapat dilakukan oleh pusat (baik oleh depardemen  atau lambaga independen) yang memiliki kualifikasi untuk melakukan pengujian, (3) Optimalisasi pemanfaatan lembaga penjamin mutu pendidikan(LPMP) terutama didaerah, (4) Peningkatan mutu pendidikan melalui pendidikan kecakapan (life skills).
         Pemberdayaan sekolah ( satuan pendidikan) secara optimal, barangkali kita sependapat bahwa ujian adalah berfungsi menentukan kelulusan siswa, dapat dilaksanakan oleh sekolah tetapi tetap mengacu pada standar kemampuan yang telah ditetapkan dalam standar nasional. Untuk menghindari insiden diskriminasi terhadap suatu provinsi tertentu, perlu digunakan satu standar kelulusan dengan peringkat tes yang dimiliki tingkat kesulitan yang sama untuk semua wilayah.Berikan kesempatan kepada masing-masing provinsi, sekolah untuk menentukan standar kelulusan yang lebih rendah atau lebih tinggi atas dsar keputusannya sendiri. Ujian sekolah juga berfungsi mengendalikan mutu pendidikan. Ini yang justru dirasakan semakin penting dalam era desentralisasi. Bahkan ada yang menilai bahwa ujian sekolah seperti ini menjadi sarana ampuh untuk menilai akademis yang dikembangkan oleh sekolah dengan standar yang ditetapkan pusat, penilaian lainnya sesuai dengan amanat pasal 3 Sisdiknas juga dapat dipotret dengan baik.            
         Pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan secara nasional, dapat dilakukan oleh pusat (baik oleh depardemen  atau lambaga independen) yang memiliki kualifikasi untuk melakukan pengujian,Dalam pasal 58 Sisdiknas jelas disebutkan bahwa evaluasi belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan, sedangkan evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan, dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan dan sistimatik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. Merujuk pada tersebut, pemerintah bisa mengembangkan model ujian secara nasional yang benar-benar mampu memotret mutu pendidikan secar5a nasional dalam rentang waktu dan metode tertentu. Jika ujian yang dilakukan secara nasional tidak untuk menentukan kelulusan siswa namun untuk memotret/memetakan mutu pendidikan secara nasional dan dapat dilakukan kapan saja atau uji sampling. Dengan demikian akan mendapatkan potret mutu pendidikan dengan sebenarnya, dan bukan hanya sandiwara belaka, karena tidak dibayang-bayangi dengan ancaman ketidak lulusan dan biaya yang harus dikeluarkan jika banyak siswa yang mengulang. Karena memang bukan untuk meluluskan atau menidakluluskan siswa, akan tetapi dalam kerangka pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan secara nasional. Kendatipun bukan berarti bahwa dengan cara tersebut tidak memiliki kekurangan akan tetapi tidak seperti cara sebelumnya.       
          Optimalisasi pemanfaatan lembaga penjamin mutu pendidikan(LPMP) terutama didaerah, dalam era persaingan semakin tajam, tidak ada satupun yang mampu mengelak kecuali terlibat didalamnya. Baik itu secara indifidu, secara kelompok ataupun melalui kelembagaan. Disemua aspek kehidupan baik politik, ekonomi,social budaya. Tentunya sangat berbeda dari era sebelumnya. Pendidikan sebagai salah satu pilar utama untuk memberikan kemampuan atau kecakapan atau kekuatan untuk memenangkan persaingan tersebut melalui pembentukan paradigm baru berupa sistem pendidikan yang dipakai tiap daerah sesuai dengan kebutuhan daerah itu sendiri.
           Dalam konsep otonomi daerah, kewenangan pusat dilimpahkan kedaerah, salah satunya adalah penataan dibidang pendidikan. Akan hal ini dilaksanakan oleh daerah secara maksimal. Sejak tahun 1998. Otonomi daerah telah berlangsung padahal kalau kita menengok kebelakang era tahun 70-an dan 80-an untuk asia tenggara, Indonesia masih menduduki peringkat atas dari segi indeks pembangunan manusia (IPM) samapai sekarang Indonesia peringkat atas tinggal kenangan belaka. Disinyalir penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah lemahnya manajerial, dana yang kurang memadai, KKN yang merajalela, disiplin dan etos kerja sangat rendah, rekruitmen pegawai yang kurang obyektif, masih rendahnya dan tidak meratanya kualitas guru yang ada saat ini, kesempatan guru sangat kurang untuk mengembangkan profesi melalui penataran oleh LPMP, terutama pada guru-guru yang bertugas didaerah terpencil.
           Oloeh karena itu ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam LPMP agar memenuhi tugasnya dalam merealisasikan kesetraan pendidikan nasional disetiap daerah dalam rangka menindak lanjuti kurikulum  tahun 2013 seperti yang diharapkan pemerintah : (1) pengendalian manajemen (2) Struktur organisasi (3) sumber daya manusia (4) Dana , (5) sarana dan prasarana (6) kelengkapan data (7) pengawasan.
          Peningkatan mutu pendidikan melalui pendidikan kecakapan (life skills). Dengan kesadaran semua pihak bahwa salah satu penyebab terdepaknya luaran pendidikan di era persaingan diseluruh aspek kehidupan dipanggung internasional adalah karena tidak adanya kecakapan hidup yang dimiliki oleh setiap luaran pendidikan kita. Hal ini ditandai oleh banyaknya alumni SLTA dan perguruan tinggi tidak mampu memposisikan diri dilapangan pekerjaan atau menganggur. Apatah lagi ketika dituntut untuk mendirikan lapangan kerja guna menampung teman-temannya atau sesama pencari kerja. Padahal kemampuan akademinya cukup memadai, tapi toh tidak mampu bersaing dilapangan  pekerjaan. Andaikata mereka memiliki kecakapan hidup maka mereka mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar, tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasi semua permasalahan yang dihadapi.
Kesimpulan dan saran  
          Ketika kita menyadari bahwa ternyata memang betul bahwa mutu pendidikan kita masih sangat rendah jika disbanding dengan Negara – Negara lainnya, maka sudah sewajarnyalah Negara ini betul-betul memberdayakan seluruh potensi sumber daya guna peningkatan mutu pendidikan, kalau kita ingin memburu ketertinggalan kita di era persaingan ini. Selain itu pemantapan tolak ukur baik dari segi input maupun output merupakan suatu kemutlakan. Begitupula optimalisasi pemanfaatan LPMP dan peningkatan mutu pendidikan  melalui peningkatan kecakapan hidup dalam rangka memburu keteringgalan kita dimata persaingan internasional. Sebab ketertinggalan tidak mungkin dapat dijawab tanpa melalui upaya peningkatan kualitas pendidikan. Sementara kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kompetensi guru.
          Oleh karena itu jika membutuhkan kualitas pendidikan maka perbaikilah kualitas gurunya. Karena kualitas output sangat ditentukan oleh kualitas proses. Sedangkan dalam proses terdapat dua komponen utama dan komponen penunjang lainnya. Komponen utama dalam proses adalah guru dan siswa, dan komponen lainnya adalah sarana dan prasarana serta dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materil.      
Daftar pustaka   

Bafaddal Ibrahim, 2003  Manajemen perlengkapan sekolah teori dan aplikasinya,                   Jakarta:PT. Bumi Aksara.

-------------------------, 2003   Manajemen peningkatan mutu sekolah dasar dari sentralisasi menuju desentralisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Imron Ali, 2002.Kebijaksanaan pendidikan diIndonesia, Jakarta; PT.Bumi Aksara . 
Undang-undang dasar 1945. Hasil Amandemen 
UU. Nomor 2 tahun  1989. Tentang Sisdiknas
UU. Nomor 20 tahun 2003.Tentang Sisdiknas
Harian Kompas .20 april 1988.
Majalah Forwas  16/ XII/2003 dan 17/XII/2004       

Direktorat pendidikan Menengah Umum, 2001. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.Jakarta: Depdiknas
Mohman Albers Susanj, 1994. School based management, organizing for hight performance. San Francisco
Nata Abuddin, 2003         Manajemen pendidikan (mengatasi kelemahan pendidikan Islam di Indonesia). Jakarta timur: Prenada Media.
Stephen.P. Robbins, 1999. Manajemen(Mnagement, Sixth Edition). Jakarta: PT. Prenhallindo
Syafri,  2003.             Manajemen sumber daya manusia Strategik. Jakarta          selatan:Ghalia Indonesia
Thoha Miftah , 2001.   Kepemimpinan dalam manajemen suatu pendekatan prilaku.Jakarta : PT.Rajagrafindo Persada.

  

TOLAK UKUR KUALITAS PENDIDIKAN DAN UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Zaenuddin Kabai (Guru SMAN 2 Bantaeng) 081342537529

Selasa, 19 Februari 2013

MUTU PENDIDIKAN ANTARA HARAPAN KEPERIHATINAN




UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI SEKOLAH UNGGULAN, KELAS UNGGULAN DAN MANAJEMEN KELAS SUATU TINJAUAN

Zaenuddin Kabai
(Guru SMAN 02 Bantaeng)

PENDAHULUAN

         Sejak awal kemerdekaan RI telah dicanangkan sebuah komitmen mengenai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebab bangsa yang besar tidak mungkin hanya dengan modal kemerdekaan. Tapi dibutuhkan kecerdasan, ketahanan,    ketabahan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bagi setiap penghuni negeri ini. Sampai sekarang peningkatan kualitas manusia Indonesia masih menjadi bahan polemik disetiap pertemuan, baik pertemuan formal maupun pertemuan nonformal.
        Ada dua persi penilaian terhadap kual;itas manusia Indonesia disatu sisi menilai bahwa kualitas manusia Indonesia masih rendah, dilain sisi dinilai bahwa bukan berarti rendah, hanya saja peningkatan kualitas terlalu lamban sehingga tidak atau kurang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini telah menjadi berita rutin setiap terbitan laporan human development indeks. Posisi kualitas sumber daya manusia Indonesia selalu berada dibawah Negara-negara Asia lainnya.
         Mensinyalir keondisi seperti ini, maka para ilmuan dan pemerhati peningkatan SDM. Menilai bahwa salah satu penyebab dan sekaligus kunci utama rendahnya kualitas manusia Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, kualitas sosial ekonomi, kualitas gizi kesehatan. Berbagai upaya dilakukan guna meningkatkan kualitas pendidikan, kendatipun sampai saat ini keresahan mengenai mutu pendidikan kita masih seperti 25 tahun yang lalu. Kini upaya peningkatan apalagi yang harus ditempuh oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang kompetitif. Ialah melalui sekolah unggulan, kelas unggulan dan manajemen kelas.
          Berdasar dari latar belakang tersebut, barangkali tidak berlebihan jika  yang menjadi masalahan sekarang adalah (1) Bagaimana sekolah unggulan itu, (2) Apa itu kelas unggulan dan pembelajaran unggulan, (3) Bagaimana manajemen kelas. Dengan demikian maka penanggung jawab sekolah bersama seluruh guru dan staf tata usah dapat mengetahui sekaligus memahami bagaimana seharusnya mengelola sekolah agar tuntutan kualitas pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Adapunh tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini tiada lain untuk memberikan gambaran mengenai sekolah unggulan, kelas unggulan, dan manajemen kelas. Selain itu sebagai bahan referens bagi penulis berikutnya.

Sekolah Unggulan Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

     Upaya mengatasi ketertinggalan kualitas Indonesia jika dibandingkan dengan Negara-negara asia lainnya melalui sekolah unggulan misalnya sekolah andalan SMAN Tinggi Moncong di Malino Kab.Gowa, SMAN 17 Makassar dan banyak lagi yang lainnya.
       Salah satu alternatif ditempuh pemerintah yang dianggap paling efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kualitas SDM.Sekolah unggulan diharapkan melahirkan manusia-manusia yang unggul sekaligus amat berguna bagi bangsa dan Negara. Tidak ada satupun yang menyangkal bahwa unggul itu dalah merupakan dambaan setiap insan.Hal ini dapat dibuktikan animo masyarakat untuk mendaftarkan anaknya kesekolah unggulan. Setiap tahun ajaran baru sekolah unggulan senantiasa menjadi pusat perhatian calon siswa baru.Ini disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka setelah tamat disekolah tersebut akan menjadi unggul. Pertanyaannya apakah hanya dengan sekolah unggulan kita mampu melahirkan manusia-manusia unggul.
      Sebutan sekolah unggul sebenarnya kurang tepat.Kata unggul menyirat adanya superprioritas dibandingkan sekolah lain. Kata ini pula memang menunjukkan adanya penilaian sebuah kesombongan intelektual yang sengaja ditanamkan dilingkungan sekolah. Dinegra-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang bermutu tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkan efektive develop accelerate,dan eccellentral (Susanj Albers Mohman, at, al, school based management, organizing for hight performance, san Francisco, 1994, h,81).
       Disisi ukuran muatan keunggulan, sekolah unggulan di Indonesia juga tidak memenuhi syarat sekolah unggulan di Indonesia hanya mengukur sebagian kemampuan akademis. Dalam konsep sesungguhnya, sekolah unggulan adalah sekolah yang terus-menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumber daya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan saja prestasi akademis yang ditumbuh kembangkan melainkan potensi psikis, fisik, etik, religi, emosi, spirite, adversity, dan intelegensi.
        Andaikan sekolah unggulan dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Konsep sekolah unggulan saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi siswa yang lebih tinggi. Maka harus diukung oleh : (1) kurikulum yang baik, (2) guru-guru berkualitas, (3) pemanfaatan sumber daya sekolah secara optimal, (4) Administrasi yang baik, (5) iklim sekolah yang kondusip. Kalau tidak demikian maka barangkali tidak ada salahnya kalau penulis mengatakan bahwa program sekolah unggulan di Indonesia secara paedagogis menyesatkan dan akan merugikan pendidikan kita dalam jangka panjang.Sekalipun demikian tentunya tidak boleh diingkari bahwa pasti ada kebaikannya: (1) persaingan secara seehat antara siswa tercipta, (2) potensi kreativitas dan inovasi siswa lebih cepat, (3) memungkinkan adanya kelas akselerasi. Begitupula kelemahan senantiasa meliputi perjalanan sekolah unggulan yakni: (1) butuh legitimasi dari pemerintah dan cenderung biayanya besar, (2) hanya kalangan orang-orang kaya mendapat kesempatan sementara orang-orang miskin tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar karena biayanya cenderung mahal, (3) memungkinkan lahirnya kesombongan intelektual dikalangan siswa, (4) mengingkari pemerataan pelayanan pendidikan.

Kelas Unggulan dan Pembelajaran Unggulan Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

         Kelas unggulan diciptakan dengan cara mengelompokkan siswa menurut kemampuan akademik atau IQ rata-rata normal keatas sebagai alat untuk memotivasi peserta didik, agar tercipta persaingan yang sehat diantara mereka. Hal ini dapat dilakukan bagi sekolah-sekolah yang pada umumnya memiliki keragaman dan pariatif peserta didik. Pengembangan kelas unggulan secara teknis juga menuntut adanya tenaga professional yang memadai sebagai guru khusus kelas unggulan untuk mengajar mata pelajaran matematika, IPA, Bhs.Inggeris, BP dan Penjas. Selain itu waktu belajar disediakan lebih banyak, sebab pada kelas unggulan disediakan jam tambahan.
         Adapun kelebihan kelas unggulan menurut Dirjen Dikdasmen Nomor : 0302/CS/1996, dalam (Dikmenum, 2001) sebagai berikut ; (1) mempersiapkan siswa yang cerdas, berimtaq, berakhlaq mulia, memiliki IPTEK serta sehat jasmani dan rohani, (2) memberikan kesempatan kepada siswa yang cerdas diatas rata-rata normal guna mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan potensinya, (3) memberikan kesempatan kepada siswa agar lebih cepat mentransfer IPTEK yang sesuai dengan perkembangan pembangunan, (4) memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi baik, dan sangat baik, (5) mempersiapkan lulusan kelas unggulan menjadi siswa unggulan dalam bidang pengetahuan dan teknologi sesuai dengan perkembangan mental anak. Begitupula kelemahan dari kelas unggulan; (1) anak yang kemampuannya biasa-biasa saja terkadang terabaikan, akibatnya akan muncul rasa rendah diri dalam pergaulan dengan teman-temannya yang ada dikelas unggulan, (2) ada kecenderungan kelas unggulan mendapat prioritas sehingga kelas lainnya kurang mendapat prioritas akibatnya dapat melahirkan kecemburuan sosial dikalangan siswa itu sendiri. (3) mengundang timbulnya perpecahan antar kelas yang cenderung terjadinya permusuhan antara warga belajar sendiri. (4) dapat melahirkan persepsi negative terhadap pelayanan pendidikan yang berujung pada motivasi belajar semakin menurun, (5) adanya kemungkinan siswa mengalami stress  ketika prestasi belajarnya menurun karena sesuatu hal, dan tergeser dari  kelas unggulan.
           Pembelajaran unggulan(the excellent teaching process), PBM yang dikembangkan dalam rangka membelajarkan semua siswa berdasarkan perbedaan tingkat keunggulannya(individual differencess) untuk menjadikannya beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menguasai IPTEK secara mandiri namun tetap dalam kebersamaan, mampu menghasilkan karya yang terbaik dalam menghadapi persaingan bebas dunia.
           Menurut Ibrahim Bafaddal (2003) pembelajaran unggulan dirancang bukan hanya siswa yang unggul, akan tetapi secara metodologi maupun psikologis dapat membuat semua siswa mengalami belajar secara maksimal dengan memperhatikan kapasitasnya masing-masing. Selanjutnya mengatakan ada tiga indikator pembelajaran unggulan: (1) pembelajaran dikatakan unggulan apabila dapat melayani semua siswa(bukan hanya sebagian siswa), (2) pembelajaran unggulan semua anak mendapatkan pengalaman belajar semaksimal mungkin. (3) walaupun semua siswa mendapatkan pengalaman belajar maksimal prosesnya sangat bervariasi bergantung pada tingkat kemampuan anak yang bersangkutan.
          Menyimak uraian mengenai pembelajaran unggulan tersebut, barangkali ada benarnya jika penulis menilai bahwa kebaikan pembelajaran terdiri dari ;  (1) Ada upaya pemerataan pelayanan dikalangan pebelajar, (2) Dapat menghilangkan kecemburuan antar kelas,(3) Mencegah munculnya pebelajar yang stress karena prestasi menurun,(4) Menutup kemungkinan timbulnya konflik antar kelas. Begitupula kelemahan pembelajaran unggulan ; (1) Membutuhkan berbagai metode penyelolaan pembelajaran yang bervariasi, (2) Tidak menutup kemungkinan siswa berpotensi maksimal ikut-ikutan malas belajar, (3) Kecil kemungkinan adanya persaingan sehingga cenderung peningkatan hasil belajar mengalami hambatan.     

Manajemen Kelas Sebagai Salah Satu Strategi Peningkatan mutu pendidikan

         Proses belajar tanpa  suatu langkah pengaturan kelas sama halnya memproses sebuah kegagalan.Oleh karena itu dikatakan bahwa manajemen kelas, suatu langkah pengaturan kelas dalam rangka kelancaran proses belajar mengajar.Selain itu dapat juga dikatakan, suatu langkah dalam menata kelas agar tercipta suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif.
         Menurut Bafaddal (2003), manajemen kelas terdiri dari tiga langkah:
Pertama, Kelas tetap, yaitu siswa dan guru sepanjang waktu dikelas hanya siswa yang tetap didsuatu kelas tertentu. Ada juga mengatakan bahwa merupakan satu bentuk pengelolaan kelas yang merupakan seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.Keuntungannya, guru dengan mudah mengontrol tingkah laku siswa terutama menyangkut tentang disiplin dan ketertiban kelas.Disamping itu ada juga kelemahan pengelolaan pembelajaran ini dapat mengundang sifat otoritas guru yang berlebihan sehingga situasi pembelajaran terasa kaku, siswa tidak mempunyai kebebasan dalam bergerak sehingga melahirkan kejenuhan dikalangan pebelajar.
Kedua, Kelas berjalan(mofing kelas).Salah satu bentuk pengelolaan kelas yang ditinjau dari konsep modern yakni seleksi dan penggunaan alat-alat yang telah dipersiapkan pada setiap ruangan tertentu atau sesuai dengan mata pelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Dengan demikian sekolah diharuskan menyiapkan ruangan sebanyak bidang studi yang berlaku pada jenjang pendidikan tersebut, misalnya SMA sebanyak 13 bidang studi pada setiap tingkatan, maka sekolah harus menyiapkan 13 ruangan yang sesuai dengan nama bidang studi tersebut. Sekalipun demikian model tersebut memiliki keuntungan dan kelemahan. Jelasnya siswa setiap mata pelajaran berganti, mereka berganti juga ruangan sesuai dengan mata pelajaran yang akan dipelajari pada jam berikutnya. Adapun keuntungannya;Guru yang kurang memiliki kemampuan dan bersifat apatis merasa tertolong dengan situasi pembelajaran. Selain itu bagi kepala sekolah dapat dengan mudah mengontrol guru yang tidak hadir pada jam pelajaran tersebut. Bagi siswa dapat tercipta suasana baru pada setiap hari sehingga dapat mengurangi kejenuhan dalam belajar.Selain keuntungan adapula kelemahannya; Siswa terkadang tidak terkontrol dalam perpidahannya itu, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam perpindahan  diambil alih orang lain selain gurunya, lebih dari itu tidak menutup kemungkinan diambil oleh non profesi guru.
Ketiga, Guru ikut, salah satu langkah pengelolaan pengajaran yang dilaksanakan melalui para guru mengikuti siswa kejenjang kelas lebih tinggi, dalam ruang lingkup jenjang pendidikan yang sama. Misalnya, guru ekonomi kelas I ikut mengajar siswanya dikelas II pada tahun berikutnya.Adapun kelemahannya, dapat memunculkan kejenuhan baik guru maupun siswa sehingga berakibat hasil belajar maksimal sulit diwujudkan.Namun demikian keuntungannya, guru dapat lebih maksimal dalam melaksanakan PBM. Karena karakteristik siswa telah dikenal baik secara individual maupun secara kelompok.

Kesimpulan dan saran  

         Beberapa model dan langkah-langkah pengelolaan pendidikan menuju peningkatan mutu pendidikan telah dikemukakan, ternyata penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa tidak ada satupun model yang tidak memiliki keuntungan, begitupula kekurangan baik itu sekolah unggulan, kelas unggulan, maupun manajemen kelas yang terdiri dari;kelas tetap, kelas bejalan, dan guru ikut. Dengan demikian suatu kewajaran kalau dikatakan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak satupun model dan langkah paling terbaik, begitupula tidak satupun terjelek yang pasti penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Olehnya itu disarankan kepada pengelola pendidikan agar dalam memilih model pengeloaan yang sesuai dengan kondisi sumberdaya yang tersedia. Selain itu rencanakan dengan baik sebelum dilaksanakan. Sebab orang tua bilang melakukan suatu pekerjaan tanpa direncanakan secara matang  sama halnya merencanakan kegagalan yang Pada akhirnya akan menuai kegagalan.
  


                                                                   
                                                               

Daftar Pustaka

Bafaddal Ibrahim, 2003  Manajemen perlengkapan sekolah teori dan aplikasinya,                   Jakarta:PT. Bumi Aksara.

-------------------------, 2003   Manajemen peningkatan mutu sekolah dasar dari sentralisasi menuju desentralisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Direktorat pendidikan Menengah Umum, 2001. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.Jakarta: Depdiknas

Mohman Albers Susanj, 1994. School based management, organizing for hight performance. San Francisco

Nata Abuddin, 2003         Manajemen pendidikan (mengatasi kelemahan pendidikan Islam di Indonesia). Jakarta timur: Prenada Media.

Stephen.P. Robbins, 1999. Manajemen(Mnagement, Sixth Edition). Jakarta: PT. Prenhallindo

Syafri,  2003.             Manajemen sumber daya manusia Strategik. Jakarta selatan:Ghalia Indonesia

Thoha Miftah , 2001.   Kepemimpinan dalam manajemen suatu pendekatan prilaku.Jakarta : PT.Rajagrafindo Persada.